Penulis itu Istimewa
Nama : Ikhfak Nurfahmi
Nim : 1701112218
Prodi : PAI
Tugas 2 Kelas Menulis Online KKN-DRSK Kelompok 43
Penulis itu Istimewa
Beberapa hari yang lalu saya menerbitkan sebuah buku yang berjudul "Refleksi Diri." Buku ini saya tulis karena terinspirasi dari perkataan Bapak Dr. Ngainun Naim, selaku pembimbing atau mentor kelas menulis online yang sudah memberikan saya dorongan untuk bisa menulis buku non-fiksi. Awalnya saya hanya fokus menulis buku-buku fiksi seperti cerpen,novel,puisi,senandika, dll. Namun semenjak saya mengikuti kegiatan menulis online KKN DRSK saya menjadi terlatih untuk bisa menulis buku non-fiksi dan alhamdulillah buku non-fiksi saya sudah terbit 5 hari yang lalu. Buku non-fiksi saya dengan judul "Refleksi Diri" ini sebetulnya sudah lama sekali saya tulis dan saya simpan di folder laptop. Namun saya mempunyai kendala untuk membukukannya, karena saya bingung buku saya ini mau di susun darimana dan diberi judul apa. Akhirnya setelah saya mengikuti kelas menulis online, saya terlatih untuk menyusun tulisan-tulisan saya di laptop yang berantakan hingga kemudian saya tata kosa katanya menjadi sebuah buku yang tersusun dan sistematis. Setelah buku saya tersusun; saya membaca kembali buku saya berulang-ulang hingga kemudian saya menemukan ide untuk memberikan sebuah judul "Refleksi Diri," buku ini berisikan kata-kata islami dan nasihat untuk merenungi kesalahan masa lalu kemudian berniat untuk tidak mengulangi.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ngainun, karena berkat beliau saya mempunyai semangat yang kuat untuk lebih giat dalam menulis dan lebih rakus dalam membaca. Di sebuah vidio di yutube, beliau mengatakan bahwa menulis itu akan lebih mudah jika kita terus menulis, dimulai dari menulis kegiatan sehari-hari terlebih dahulu hingga kemudian bisa menulis karya-karya ilmiah. Ilmu dari beliau ini insyaAllah akan selalu saya terapkan. Karena cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang pendidik dan penulis yang bisa memberi manfaat kepada orang lain; sehingga ketika tangan saya telah berubah menjadi tanah maka tulisan saya yang abadi di atas tanah akan menolong saya ketika saya menghadap kepada Sang Pencipta.
Ada banyak kendala ketika saya menulis, yang paling sering adalah writerblock. Namun bisa di atasi dengan memberikan jeda dan memberikan tempat istirahat kepada otak dengan refreshing dan membaca. Ada lagi hambatan saya dalam menulis; yaitu ketika saya sedang menulis dan mengembangkan ide yang muncul di otak saya, tiba-tiba ada ide-ide lain yang datang dan membuat otak saya bingung mau menulis ide yang mana. Problem inilah yang kadang membuat saya jengkel ketika menulis.
Bapak Dr. Ngainun Naim mengatakan bahwa seorang penulis itu istimewa; karena tidak semua orang bisa menulis. Ya... saya juga merasakan hal itu, memang menulis itu bukanlah hal yang mudah namun akan menjadi mudah jika kita sudah terbiasa menulis. Seperti kata Aristoteles bahwa; kekuatan terbesar berasal dari kebiasaan. Semua akan terasa mudah jika kita sudah terbiasa. Apapun yang kita lakukan; jika kita sudah terbiasa melakukan hal itu maka otak kita tidak perlu berpikir untuk melakukan hal itu. Sama halnya dengan menulis. Jika kita sudah terbiasa maka menulis akan terasa ringan dan mengalir seperti air.
Di akhir tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Allah SWT yang telah memberikan saya tangan sehingga saya bisa menulis. Dan juga kepada pihak BPKKN IAIN Palangka Raya yang telah mengadakan kelas menulis online. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Dr. Ngainun Naim yang sudah membimbing saya dalam menulis. Sehingga saya bisa menulis buku dengan genre non-fiksi religy karya pribadi.


Komentar
Posting Komentar