Berpikir Mendalam

 Ada sesuatu yang menjanggal di kepala saya, ketika orang-orang memaknai kebahagiaan dengan cara pandang 'setelah'. Contoh; setelah saya lulus saya akan bahagia, setelah saya menikah saya akan bahagia.dll. Kenapa tidak sekarang saja bahagianya? Tidak perlu menunggu 'setelah ini dan itu'. Jika kita berpikir mendalam, kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati jika menunggu 'setelah'. Karena akan terus ada setelah-setelah berikutnya. Bilapun bahagia, itu hanya semu dan sementara.

**

"Penjahat zaman moderen sekarang adalah penjahat berpenampilan agamis." Kemarin saya membaca buku filsafat politik karya Reza A. Disitu menjelaskan tentang seorang ilmuan yang mencoba meneliti hewan, untuk kemudian mencari kesamaan yang paling menonjol dengan manusia. Dari penelitian tersebut, ternyata kita memiliki satu kesamaan yang menonjol dengan sifat hewan. Yaitu sifat "pura-pura". Kalau dalam bahasa biologi disebut "mimikri" seperti bunglon. Ya... kita pandai berpura-pura. Contohnya koruptor-koruptor yang berpenampilan agamis untuk menutupi kemunafikannya.

**

Beberapa orang menganggap sepi adalah kutukan. Namun bagi saya, sepi adalah surga tersendiri. Kita takut sepi, padahal dalam sepi lah kita bisa refleksi diri, merenungi kesalahan masa lalu, untuk kemudian memperbaiki. Dalam sepi pula, kita bisa mengatur strategi untuk perjalanan esok hari. Supaya tidak salah langkah, dan mengantisipasi terprosok pada lubang yang sama lagi.

Komentar